Ei dan kopi fresh

Postingan pertama di 2018 ini ei mau cerita kalo 3 bulan di akhir tahun kemarin ei sedang keranjingan sama kopi. Kopi yang murni kopi ya, fresh dan bukan yang sudah dikombinasi dengan susu dan gula. Kalo yang model kombinasi sih, ei udah gandrung sejak lama.
Kesukaan ei akan kopi bukan karena belakangan ini kedai kopi menjamur di mana-mana, tapi karena baru tau kalo ternyata minum kopi yang masih fresh itu nikmat dan menyenangkan.
Kopi fresh di sini maksudnya adalah bubuk kopi yang diseduh proses pembuatannya tidak lebih dari 2 minggu sejak biji kopinya dipanggang dan digiling sampai di seduh.
Khusus untuk yang penyajiannya dilakukan dengan manual alias tidak menggunakan mesin pembuat kopi, ei sudah bisa lho menikmati kopi tanpa gula. Oke kan ya untuk peminum kopi kelas pemula *maksa.

Untuk kopi hitam, menurut lidah ei yang masih pemula ini kopi dari daerah-daerah di Indonesia lebih bisa dinikmati daripada kopi produksi sebuah merek luar negeri yang waralabanya banyak di sini. Kopi asli Indonesia yang pernah ei coba antara lain : kopi Aceh Gayo, kopi Papua Wamena, kopi Sidikalang, kopi Temanggung dan kopi Flores.
Menikmati kopi fresh ini agak tricky . Bukan karena kopi akan basi, tapi karena cara penyimpanan akan berpengaruh pada turunnya kualitas kopi itu sendiri yang mengakibatkan berkurangnya kekuatan rasa asli. Jika penyimpanan tidak benar, yang lebih dulu terasa berkurang adalah aroma kopinya. Untuk kopi bubuk, aromanya akan berkurang sekitar 2-3 hari sejak kemasan dibuka. Dibandingkan dengan kopi bubuk, kualitas dari biji kopi masih bisa dipertahankan lebih lama.

Sekarang sudah banyak juga penyedia kopi yang menyediakan mulai dari biji kopi yang belum dipanggang (green bean), biji kopi yang sudah dipanggang maupun kopi yang sudah digiling dengan tingkat kematangan dan kehalusan sesuai pesanan. Tapi waktu ngobrol dengan seorang teman yang sudah menjadi penyedia kopi skala kecil, @mhdland , koq ya ei tertarik untuk mengadopsi alat pemanggang biji kopi (roaster) yang dia buat hasil modifikasi dari popcorn maker. Modifikasi yang dilakukan adalah untuk mengatur panas. Kalau tidak diatur panasnya, biji kopi bisa gosong hanya dalam waktu 3 menit.
Sekali proses pemanggangan hanya membutuhkan waktu maksimal 9 menit dengan kapasitas maksimum 75 gr biji kopi. Selama pemanggangan biji kopi di aduk-aduk dengan sumpit kayu supaya “matang”nya rata.
Dan di hari pertama tahun ini, roaster pun berpindah tempat hehehe.

Setelah punya roaster muncul kebutuhan alat lain yaitu penggiling kopi (grinder). Atas saran dari orang yg sama, dibelilah alat penggiling kopi manual.
Nah, alat minimum yang diperlukan untuk menyediakan kopi fresh siap seduh untuk konsumsi sendiri sudah lengkap. Yang perlu dipantau sekarang adalah seberapa kuat keinginan untuk memanggang dan menggiling kopi sendiri demi menyeruput kopi fresh :-P .

Original pic taken by teh ratna

Ngomong-ngomong, lama banget ei ngga nyapa lewat blog ya. Mohon maaf, tahun kemarin blog ini hanya ada satu post. Ya memang mood untuk update blog itu ada pasang surutnya *alasan. Tapi instagram dan facebooksih selalu updatekoq.
Kalo jalan-jalan ke blog-nya orang-orang diakhir tahun berjalan atau diawal tahun baru, banyak yang menuliskan tentang resolusi. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, ei ngga posting resolusi. Konsisten ya :-P . Bukannya ngga punya sih, ada tapi untuk konsumsi pribadi aja. Jangan kecewa ya pemirsa :-D .

So, kopi jenis apa yang kamu seduh hari ini ?  

#coffeeroaster #coffee #freshcoffeebeans #eitheadotnet

(Visited 102 times, 1 visits today)

Comments 10

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *