Ketika swing voter memilih … (1)

Sepertinya tidak ada yang akan menyanggah bahwa suasana Pemilihan Presiden (pilpres) Indonesia kali ini suasananya sangat berbeda. Sebut saja lebih heboh, lebih berasa, lebih seru atau boleh juga lebih lebay.
Bahkan untuk saya pribadi, pilpres kali ini membuat saya lebih lebay menghadapinya. Kenapa?

  1. Calon Presiden (capres) -nya hanya ada 2.
    Ini pertama kalinya pilpres dengan hanya 2 capres sejak memilih presiden secara langsung (bukan melalui partai).
  2. Masing-masing capres datang dengan latar belakang yang berbeda.
    Yang satu ber-latar belakang militer sementara yang satunya lagi berlatar belakang warga sipil.
  3. Karena latar belakang yang berbeda itu pula, walaupun sama-sama berasal dari suku Jawa tapi karakter tampak luar keduanya sangat berbeda. Yang satu terlihat afirmatif (istilah para pendukungnya-red), yang satunya terlihat kalem.

Semangat untuk melibatkan diri pada pilpres kali ini sangat terasa terutama di media sosial (medsos). Berbagi berita dan opini bahkan sudah dimulai sebelum masa kampanye dimulai.
Saya memang tidak pernah golput dari pertama kali mempunyai hak pilih. Tapi saya belum pernah bersungguh-sungguh memilih. Motivasi saya setiap pemilu/pilpres hanya menjaga agar hak saya tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Alasan menentukan pilihan pun hanya berdasarkan perasaan, mempertimbangkan yang mana yang lebih pantas fotonya di pajang di sekolah2 :-P , meskipun dalam hati sangat yakin siapapun yang terpilih tidak akan berdampak besar buat negara ini. Dan akhirnya memang terbukti di beberapa kali pemilu/pilpres.

Korupsi tetap meraja lela, bahkan lebih parah. Kalau dulu korupsi hanya terbatas di lingkungan tertentu, setelah era reformasi korupsi meluas tak terkendali sampai di struktur pemerintahan terendah. Premanisme tetap menjadi juara.
Biaya pendidikan semakin mencekik para orang tua yang menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan layak. Dan masih banyak lagi cerita yang membuktikan bahwa reformasi yang diperjuangkan akhirnya hanya tinggal kata-kata.

Iya, saya terbawa suasana merasa berkepentingan untuk terlibat beneran dalam pilpres kali ini. Dan betul, saya terbawa suasana, tapi tetap berusaha untuk tidak terbawa hanyut arusnya.

Sejak KPU mengumumkan capres secara resmi, saya mencoba mencari tau siapa calon pemimpin negara ini untuk  5 tahun mendatang. Meskipun sedikit banyak saya sudah menaruh harapan kepada Jokowi karena track record nya sejak menjadi walikota Solo dan kemudian gubernur DK. Tapi saya tetap tidak mau asal memilih. Hey, kali ini yang dipilih akan menjadi presiden, memimpin negara ini dengan keanekaragaman masalahnya.
Apakah seorang Jokowi sanggup? Atau mungkin Prabowo malah lebih pantas?

Untuk mendapatkan jawabannya, saya dengan yakin menetapkan peraturan pada diri sendiri untuk membandingkan hal yang setara dari 2 capres.

Aturan Mahkamah Konstitusi (MK) mengatakan calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawapres) harus dibawa dari partai. Baiklah, saya mulai dari partai pengusungnya.
Jujur aja dari sejak mengerti apa itu partai politik, kenapa ada partai, saya tidak pernah tertarik dan bersimpati pada partai2 yang ada. Apalagi setelah mengerti bahwa tidak ada yang abadi dari politik melainkan kepentingan. Tindakan apapun akan di maklumi jika bisa menunjukkan bahwa itu dilakukan untuk kepentingan partai.
Ditambah lagi saya sempat terkecoh oleh salah satu partai yang mengaku “bersih”. Ternyata tokoh2 nya yang seharusnya menjadi panutan, tetap terpeleset ketika memegang kekuasaan. Oleh karena itu, saya lebih suka jika capres dan cawapres adalah independen, tidak dicalonkan oleh partai, supaya tidak ada hutang budi dengan partai. Waktu pilgub DKI sempat ada satu cagub yang independen, Faisal Basrie. Sedangkan untuk capres dan cawapres, putusan MK yang dibilang di atas tadi masih belum diganti hehehe ;-) .
OK,  mari kita abaikan partai yang mengusung dan yang berkoalisi di kedua sisi capres.

swingvoters6

Kedua, visi & misi para capres

Secara garis besar, visi & misi kedua capres mirip-mirip lah ya. Bedanya punya Jokowi lebih panjang karena dilengkapi dengan program yang akan dilakukan dalam mewujudkan visi misinya. Sampai sini saya melihat Jokowi dan/atau timses nya sedikit lebih serius menyusun visi & misi mereka.

Ketiga, track record
Terkait dengan reformasi 1998, banyak berita dan opini miring tentang Prabowo. Saya merasa tertantang, berusaha mencari tau apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Sekuat tenaga menyaring agar hanya yang dapat dipercaya yang saya jadikan referensi. Saya mencoret beberapa media online karena diragukan kebenaran tulisannya.

swingvoters7

Saya coba mencari referensi dari tulisan2 lama yang ditulis oleh beberapa tokoh militer/pemerintahan/masyarakat di masa itu. Tulisan2 tersebut ada yang berupa softcopy dari buku, kliping berita, blog yang pemiliknya menjadi saksi mata *katanya*, dll.
swingvoters8Tapi setelah membaca beberapa tulisan, berasa ada yang janggal. Jika diibaratkan dengan puzzle, semua tulisan yang saya baca seperti ada bagian yang hilang. Atau semua potongannya lengkap, tapi ada beberapa yang sepertinya dipaksakan.
Ah, kenapa saya lupa bahwa dari kapanpun dan dimanapun, tidak hanya di negara ini, tapi di negara lain pun sama, yaitu yang namanya militer tidak pernah terbuka. Apa yang terjadi di internal militer penuh rahasia dan selalu tertutup rapat. Jadi kalaupun ada berita dari lingkungan militer, kita-kita dari lingkungan sipil sudah pasti akan kesulitan untuk memastikan apakah berita tersebut original atau sudah hasil rekayasa.

Waktu yang saya luangkan untuk kepentingan pilpres ini terbatas. Ditambah  lagi banyak keraguan tentang catatan Prabowo di dunia militer. Demi menjaga kesetaraan pembanding, jadinya track record untuk dijadikan pembanding kedua capres saya batasi saja untuk 10 tahun ke belakang.

Karena belakangan berkecimpung di pemerintahan, apalagi dibarengi dengan prestasi-prestasi yang diraihnya, tentunya track record Jokowi dengan mudah dapat ditemukan untuk dijadikan referensi. Hampir semua media berita berebut untuk menyampaikan kepada pembacanya bahwa masih ada pejabat daerah yang memikirkan warganya. Turun tangan langsung ke masyarakat, tidak hanya menerima laporan dari anak buah dan duduk nyaman menikmati fasilitas.

Masa kampanye secara resmi di mulai. Pada pilpres atau pilkada sebelum2nya saya paling bete berpapasan dengan pawai partai yang berkampanye di jalan. Yang bermotor banyak ga pake helm, anak2 kecil di bawa tanpa memperhatikan faktor keselamatan, bikin macet pula.
Pilpres kali ini bete saya bertambah. Timeline medsos saya mulai dipenuhi dengan kampanye.

Para oknum pendukung online dari masing2 kubu, seperti berlomba-lomba menebarkan keburukan capres lawan. Makin lebay tulisannya, makin makin panjang daftar yang komentar. Dan yang sangat menyedihkan adalah di timeline facebook saya, bermunculan status teman-teman yang pernah saya kagumi karena kearifannya, kecerdasannya, kesabarannya,pengetahuan dan ketaatannya kepada agama. Dari statusnya, mereka seperti sedang kena sihir, mendadak tidak bisa berfikir dengan logika yang wajar. Dengan mudah mengkomentari sebuah tautan dengan ejekan atau kata2 sinis menyindir capres lawan.
Tapi ya sudahlah ya, namanya juga sesama manusia.

swingvoters3

Serangan black campaign  untuk Jokowi di dunia maya mulai tak terarah. Di medsos, banyak link yang diragukan kebenaran beritanya di share menjadi status, ditambah dengan komentar yang seringkali terlihat jelas ditulis dari hasil membaca judul tanpa membaca isinya sampai tuntas. Yang dipermasalahkan mulai dari agama, nama depan, antek zionis, dll. Bahkan yang terakhir di curigai sebagai anggota PKI. Yang terakhir ini buat rasa-rasanya koq sudah keterlaluan.

Mungkin karena sejak awal saya meyakinkan diri sendiri untuk berusaha memilih dengan betul-betul mempertimbangkan referensi yang bisa dipercaya, saya masih bisa menahan diri untuk tidak langsung bereaksi dengan meninggalkan komentar di status teman2 saya itu. Sesekali saya memasang status untuk sekedar saling mengingatkan.

swingvoters1

Saya malah sempat menikmati menilai karakter teman-teman medsos saya daripada membaca tautan yang mereka jadikan referensi.  Ternyata, apa yang terlihat tidak mencerminkan isi itu memang sangat2 terbukti saat ini.

Saya masih belum menentukan pilihan. Dalam menentukan pilihan, tentunya kita sangat ingin memilih yang sempurna. Tapi ya di dunia ini mana ada yang sempurna. Banyak yang mengingatkan untuk tetap memilih, paling tidak yang paling sedikit keburukannya.

Badai hujatan mulai menjalar dari dunia maya ke dunia nyata. Tapi tetap saja, para oknum pendukung capres lebih suka menyebutkan kekurangan capres lawan daripada mempromosikan prestasi capres pilihannya. Alhamdulillah sudah lama tidak pernah sempat lagi nonton acara tv. Saya terhindar dari suguhan berita2 tentang capres dan cawapres dari tv yang katanya sangat tidak seimbang tergantung pemiliknya pendukung capres yang mana.
Tapi untuk tambahan referensi, saya masih nonton acara debat capres dan cawapres ataupun beberapa episode Mata Najwa dengan topik pilpres dari youtube saja.

swingvoters2
Juga beberapa kali sempat diskusi menyampaikan beberapa pertanyaan dan minta referensi tautan yang isinya bisa dipercaya kepada beberapa teman yang sudah memutuskan pilihannya. Tentunya saya pilih teman yang saya tau orangnya open mind meskipun sudah menentuan pilihan di kedua sisi.
Ada juga beberapa teman yang menanggapi status-status saya secara langsung melalui chat messanger, menghindari debat di ruang publik katanya.

…bersambung…

(Visited 150 times, 1 visits today)

Comments 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *