Ketika swing voter memilih … (3)

Postingan kemarin tentang Prabowo, sekarang tentang Joko Widodo aka Jokowi.
Sebelum dimulai saya sampaikan dulu bahwa saya tidak akan menuliskan ulang kebaikan/prestasi Jokowi. Silahkan lihat sendiri di beberapa tautan berikut sebagai referensi :

  1. KPU : riwayat hidup Jokowi 
  2. Wikipedia : Joko Widodo

Masih banyak lagi situs yang memuat tentang Jokowi, silahkan googling :)

Di postingan sebelumnya, saya mengabaikan rekam jejak Pak Prabowo sewaktu di Militer karena terlalu banyak kontroversi, jadinya saya tetap baca, untuk konsumsi saya sendiri. Untuk perbandingan kedua capres, saya hanya akan membandingkan rekam jejak kedua capres selama 10 tahun terakhir. Kebalikan dengan Jokowi, 10 tahun terakhir di warnai dengan reaksi-reaksi positif dan negatif terkait dengan pencalonannya menjadi Gubernur DKI dan Presiden.
Saya akan terlebih dahulu mengungkapkan sikap saya terhadap reaksi negatif yang dialamatkan untuk Jokowi.

jokowijkPencitraan.
Pencitraan disini adalah berperilaku dibuat-buat, tidak apa adanya untuk menampilkan kesan yang baik demi mengambil simpati masyarakat.
Jika memang apa yang dilakukan Jokowi ini adalah pencitraan, saya bilang Jokowi adalah sosok yang luar biasa. Luar biasa karena konsisten dengan sikap dan tindakan dalam rangka pencitraannya, yang artinya berbohong terus menerus selama belasan tahun. Bahkan ketika di calonkan menjadi walikota solo untuk kedua kalinya di tahun 2010, bisa merebut 90,09% suara warga kota solo. Dan juga berhasil merebut simpati warga DKI Jakarta sehingga terpilih menjadi gubernur untuk periode 2012-2017.

Partai pengusungnya adalah partai terkorup.
Saya sudah bilang saya tidak ingin membahas partai. Tapi sikap saya terhadap hal ini adalah kubu Prabowo pun berkoalisi dengan partai-partai yang memiliki kasus korupsi. Tidak perlu saya sebutkan satu persatu ya, silahkan googling.

Jokowi akan melindungi Syiah.
Prabowo juga sama, cek di sini.

Jokowi akan menghapuskan kolom agama di KTP.
Salah satu berita bantahannya dimuat di sini.
Tapi misalnya ternyata tetap ada kemungkinan ini, kira-kira penghapusan kolom agama di ktp ini akan diatur oleh peraturan yang mana? Perpu kah? Keppres kah? Atau yang lain? Setelah punya jawabannya, cari tau juga bagaimana syarat sah-nya peraturan tersebut sampai dengan proses diberlakukan.
Apakah sangat mudah? Apakah di tengah penyusunannya ada kemungkinan untuk dibantah sehingga batal?

Tidak cocok dengan orang-orang di belakang Jokowi, takutnya nanti mengekang kebebasan umat muslim untuk beribadah.
Kita sudah melaksanakan pemilihan anggota Dewan Legislatif sebelum pilpres. Saya yakin kita semua tau bahwa anggota Dewan Legislatif adalah wakil kita yang seharusnya menyampaikan suara kita. Dewan Legislatif bisa untuk menolak/tidak menyetujui keputusan/peraturan pemerintah. Keputusan/peraturan pemerintah yang tidak disetujui tidak dapan diberlakukan.
Pemilihan presiden, siapapun yang terpilih, orang-orang yang dibelakangnya tidak akan serta merta mengganti anggota Dewan Legislatif.

Rasa-rasanya sih ya, orang Indonesia biasanya sangat semangat untuk menghalangi/tidak menyetujui keputusan pemimpin yang bukan pilihannya. Nah melihat koalisi partai dibelakang Jokowi itu langsing, mestinya ketakutan ini terjawab donk ya ?

Tapi bagaimana kalau tidak yakin dengan kualitas mereka yang ada di Dewan Legislatif ? Waktu pileg kemarin pilih siapa atau partai apa? Atau malah golput? ;-)

Revolusi Mental, bawaan ajaran komunis.
Waktu pertama dengar kata revolusi mental, yang terlintas di kepala saya hanya perubahan mental menjadi lebih baik.
Buang sampah sembarangan, menyerobot antrian, berkendara di jalan raya semaunya tanpa memikirkan keselamatan dirinya dan orang lain, berbohong demi mendapatkan dukungan (pembenaran), mengakui hasil pekerjaan orang lain sebagai hasil pekerjaannya, bertindak anarkis yang menimbulkan kerugian besar hanya karena fanatisme kepada tim sepakbola daerahnya, prinsip jika bisa diperlambat untuk apa dipercepat yg umum berlaku di pemerintahan sampai level terendah, kkn sudah menjadi hal yg lumrah, dan masih banyak lagi hal negatif yang menjadi potret keseharian masyarakat kita.

Apakah ada yg tidak setuju bahwa itu semua adalah penyakit mental? Atau adakah yang tidak mengharapkan penyakit2 mental itu sembuh di lingkungan kita berada?

Revolusi mental ini dipertegas dengan program Jokowi yang tercantum di visi-misi-nya : di bidang pendidikan tentang porsi pendidikan karakter/budi pekerti/etika berbanding ilmu pengetahuan.

SD –> 80 : 20
SMP –> 60 : 40
SMA –> 20 : 80

Program ini memberi saya sedikit harapan akan terjawabnya pertanyaan saya : Kenapa masuk SD harus ada test calistung? Kenapa harus ada kelas akselerasi jika masih ada kekhawatiran kesiapan si anak secara psikologi? Kenapa bahasa Inggris sudah menjadi pengantar di beberapa sekolah dasar ? dll.

Masih terkait dengan revolusi mental, tentang korupsi yang saat ini menjadi keluhan hampir semua masyarakat Indonesia.
Teringat bertahun-tahun yang lalu (mungkin 10 thn yang lalu) saya berdiskusi dengan teman. Kami sepakat bahwa carut marutnya bangsa ini (pemerintah, aparat dan rakyat) dikarenakan sistem yang tidak kondusif dan akhlak dari orang2 yang terlibat di sistem tersebut. Kami juga sepakat bahwa sistem yang kondusif  harus dibangun agar menutup celah bagi oknum untuk melakukan kecurangan2. Dan kami juga setuju akhlak yang baik dari setiap individu harus dibentuk karena tidak ada sistem yang 100% sempurna. Diskusi menjadi seru ketika berlanjut ke pertanyaan, mana yang harus dibenahi terlebih dahulu, sistem atau akhlak.

Visi dan misi Jokowi menjawab diskusi kami 10 tahun yang lalu : pembangunan sistem (dengan serba online) di semua bidang dan revolusi mental (akhlak).

Jadi sementara sebagian dari kita mempermasalahkan bahwa revolusi mental merupakan bawaan dari ajaran komunis, saya lebih memilih esensi-nya. Revolusi mental buat saya adalah perbaikan mental yang memang sudah sangat dibutuhkan oleh masyarakat kita sekarang ini.
Jika memang kata revolusi mengerikan, coba cek definisinya di sini.
Jika setelah mengerti artinya, kata revolusi masih berkesan mengerikan, mungkin perlu dicari kata pengganti yang lebih nyaman diterima, bukan program perbaikan mentalnya yang langsung ditolak.

jokowijk1Sampai disini yang membaca tulisan saya tentang pilpres dari yang postingan pertama pasti menilai bahwa saya tidak seimbang. Terlalu berat ke Jokowi. Saya tidak akan menyanggahnya karena seperti yang saya bilang di postingan sebelumnya, bahwa saya kesulitan mencari rekam jejak Prabowo diluar dunia militer-nya. Sementara untuk mencari tulisan yang saya perlukan dari sisi Jokowi bisa saya dapatkan dengan mudah. Silahkan mencobanya sendiri jika tidak percaya :) .

Jika saya hanya memilih berdasarkan apa yang saya dapatkan sampai di sini, saya akan memilih Jokowi. Tapi masih ada lagi pertanyaan saya : Apakah Jokowi sanggup menjalankan visi misinya mengingat mayoritas pejabat negara Indonesia kita tercinta ini sudah terlalu nyaman dengan kondisi yang carut marut? Mereka yang sudah nyaman itu tidak mungkin diam jika merasa terganggu. Apakah revolusi mental yang Jokowi teriakkan akan terus berjalan prosesnya atau tenggelam dikalahkan oleh kronisnya penyakit mental ?

Oh iya saya tidak akan membahas cawapres secara khusus di tulisan2 saya terkait pilpres ini. Alasannya karena saya tidak tertarik untuk membahasnya. Keduanya datang dari jaman yang sama, jaman di mana ketika saya memberikan hak suara saya dalam pemilu hanya untuk mencegah surat suara saya digunakan oleh orang-orang yang tidak punya moral. Apalagi saya belum lupa dengan anak salah satu cawapres yang menabrak mobil hingga menghilangkan nyawa manusia di dalamnya tapi lolos dari jerat hukum. Anggap saja ini bonus untuk mereka dari saya dalam rangka menghormati orang tua ;-) .

 

(Visited 31 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *