Ketika swing voter memilih … (4)

Saya suka berkelompok, tapi juga tidak menemukan masalah berarti jika harus sendirian. Saya suka ikutan komunitas yang sesuai dengan bidang yang saya suka, atau yang sering bersentuhan dengan keseharian saya. Tapi juga tidak akan bersedih jika saya harus mundur dari sebuah komunitas karena saya sudah tidak lagi nyaman berada di dalamnya. Saya bukan orang yang suka ikut beramai-ramai turun ke jalan, entah untuk berdemo (apapun alasannya) apalagi untuk berkampanye.  Selain waktu yang sering bentrok dengan keseharian yang saya lakukan, buat saya, turun ke jalan hanya untuk kondisi darurat jika betul-betul tidak ada lagi cara lain untuk menyampaikan aspirasi. Saya tidak tau termasuk kriteria dalam ilmu psikologi untuk yang seperti saya ini ;-) .

Dalam perjalanan menjadi swing voter, pertanyaan saya di akhir postingan kemarin, seperti terjawab dengan perkembangan selanjutnya di dunia maya (sosmed, blog dan berita online) dari para pendukung Jokowi.

Pendukung Jokowi saling mengingatkan untuk tidak melakukan black campaign diwarnai dengan maraknya hashtag #sayangJokowi stop bicara tentang capres sebelah atau #KeepCalmAndVoteJokowi.

facebook_jk

Jika pemilu/pilpres sebelumnya sering ada pembagian kaos dengan kualitas seadanya dari tim sukses, kali ini tersebar gambar2 keren siap sablon yang dibagikan secara gratis oleh para relawan kreatif. Kemudian banyak dari pendukung Jokowi yang membuat sendiri kaos dukungan dengan sablon digital. Karena bayar sendiri dan untuk dipakai sendiri tentunya kualitas kaos menjadi tidak seadanya. Kemudian berkelompok baik dalam maupun luar negeri, berfoto sama-sama dan upload di medsos.

Ajakan berupa video singkat untuk mereka yang masih belum menentukan pilihan dibuat oleh pendukung Jokowi dari berbagai kalangan dan profesi terkumpul rapi di sini :

60detikyoutube

Deklarasi berdatangan dengan hashtag #AkhirnyaMilihJokowi dari berbagai kalangan, yang pada pemilu/pilpres sebelumnya menjadi anggota tetap golput.

Dari dunia nyata, saya tersentuh dengan ini

dan ini

Tanpa di komando, gerakan yang massive dan kompak datang dari kesamaan rasa lelah dan muak akan carut marutnya bangsa ini. Dari kesamaan kekecewaan karena harapan yang tumbuh pada masa Reformasi pupus digerogoti kronisnya penyakit mental mereka yang kita titipkan amanah.
Saling mengajak, saling meyakinkan bahwa harapan itu ternyata belum mati. Harapan itu masih ada, tapi hanya bisa diraih bukan dengan diam, melainkan dengan kepedulian bersama untuk bertindak.
Saling menumbuhkan kesadaran bahwa seorang Jokowi tidak bisa mewujudkan harapan kita bersama itu sendirian!

Dapat dirasakan bahwa revolusi mental itu sudah dimulai saat sebagian yang lain masih mempermasalahkan dari mana kata revolusi mental itu berasal.

Dan tiba-tiba saya diingatkan lagi dengan link ini :

FUUI

Siapa coba yang keberatan jika saya bilang betapa pilpres kali ini memang penuh warna :-) .

Memilih presiden artinya memilih pemimpin dalam bernegara dan bermasyarakat. Pemimpin yang dipilih bertanggung jawab atas seluruh rakyatnya. Jadi idealnya pemimpin yang dipilih harus yang sempurna. Jika tidak mungkin dipilih yang sempurna, maka pilihlah yang paling banyak kebaikannya. Jika masih seimbang, dipilih yg paling sedikit keburukannya.

Yang saya ceritakan di 4 postingan berseri tentang pilpres kali ini adalah ikhtiar saya dalam rangka menentukan calon presiden yang akan saya pilih. Saya memang tidak membandingkan beliau-beliau dari kualitas mereka dalam menjalankan agama. Saya hanya membandingkan sebanyak mungkin dari yang dapat saya lihat. Dari sisi agama, bahwa beliau-beliau ini adalah seorang Muslim, sudah cukup bagi saya.

Menentukan mana yang paling Islami di antara mereka berdua, bagi saya sama halnya dengan menentukan mana yang paling mulia : seorang ibu yang juga pekerja luar rumah atau yang tidak ? :-) .
Kalaupun nanti ternyata pilihan saya adalah sebuah kesalahan, semoga Allah SWT, Tuhan yang Maha Pemurah mengampuni saya.

Setelah pilpres ini, tugas selanjutnya adalah kembali mengawasi, mengawal jalannya pemerintahan yang dipimpin oleh siapapun presiden terpilih. Tugas ini tidak menjadi gugur jika presiden terpilih adalah capres yang kita dukung ;-) .

Jadi gimana nih, mau sama-sama ambil tindakan demi sedikit harapan perubahan ? Atau masih ingin diam saja dan bersiap tenggelam dalam kekecewaan yang sama seperti kemarin2?
Saya sih memang ga pernah golput, tapi kali ini saya memilih bukan hanya berdasarkan pantas tidaknya foto capres di pajang di dinding kelas :-P .

Yuk ke TPS, pilih yang dirasa paling bisa diajak untuk sama-sama berusaha mewujudkan harapan kita semua.

(Visited 40 times, 1 visits today)

Comments 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *