Marhaban ya Ramadhan

whitepaperSaya tidak ragu bahwa ajaran agama harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.
Sependek yang saya tau, ajaran agama saya sangat jelas membedakan yang diharuskan, dianjurkan, dibolehkan atau dilarang.
Tapi agama saya sangat toleran, yang dilarang bisa diberi keringanan untuk dilakukan apabila memenuhi syarat tertentu, misalnya  karena situasi gawat/darurat. Tentunya situasi gawat/darurat ini tidak akan selalu sama untuk semua manusia di dunia pada waktu yg bersamaan.

Saya ambil satu contoh yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari : berbohong.

Merujuk kepada hadits :
“Belum pernah aku dengar, kalimat (bohong) yang diberi keringanan untuk diucapkan manusia selain dalam 3 hal: Ketika perang, dalam rangka mendamaikan antar-sesama, dan suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya (jika untuk kebaikan).” (HR. Muslim)

dan ini :

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi SAW, Beliau bersabda; sesungguhnya kejujuran itu membawa pada kebaikan dan kebaikan itu membawa (pelakunya) ke surga dan orang yang membiasakan dirinya berkata benar(jujur) sehingga ia tercatat disisi Alloh sebagai orang yang benar, sesungguhnya dusta itu membawa pada keburukan(kemaksiatan) dan keburukan itu membawa ke neraka dan orang yang membiasakan dirinya berdusta sehingga ia tercatat disisi Alloh sebagai pendusta. (HR. Bukhari Muslim)

Melihat hadits pertama di atas, meskipun dalam kondisi gawat/darurat tidak disebut bahwa berbohong diperbolehkan, melainkan diberi keringanan untuk diucapkan.
Saya sangat yakin bahwa definisi gawat/darurat seringnya dipengaruhi oleh keterbatasan manusia dalam berpikir (termasuk saya sendiri tentunya) sudah di akomodir dalam hadits ini.

Tentunya saya juga tidak sedikitpun meragukan ayat ini :

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji atom), niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah (biji atom) pun, niscaya dia akan menerima (balasan)nya.” (QS. Al-Zalzalah [99]:7-8)

Memasuki bulan Ramadhan kali ini saya rasakan relatif lebih berat daripada yg sebelum-sebelumnya. Hal ini karena pesta demokrasi rakyat yang akan dilaksanakan di awal Ramadhan.

Memutuskan untuk tidak memilih berarti mengabaikan hak sekaligus kewajiban sebagai warga negara. Mengabaikan semua harapan akan adanya perbaikan, dengan terpilihnya siapapun yang menjadi pemimpin nantinya.

Memilih berarti memutuskan dengan mempertimbangkan banyak hal. Mempertimbangkan berarti membandingkan semua aspek baik dari sisi kebaikan maupun keburukannya.

Mempertimbangkan banyak hal di jaman ‘googling’ sekarang ini harusnya lebih mudah. Tapi sayangnya saya malah harus ekstra hati-hati mengambil hasil ‘googling’ sebagai salah satu referensi. Kemudahan mencari tulisan/berita berbanding lurus dengan kemudahan untuk meng-upload tulisan/berita itu sendiri. Sementara validasi dari apa yang dituliskan atau di-upload itu sepertinya entah menjadi urutan nomor berapa.

Sementara saya, saya hanya manusia biasa yang penuh keterbatasan dan sangat jauh dari sempurna. Dalam kehidupan sehari-hari saja tak terhitung dosa yang sudah saya perbuat, harus ditambah lagi dengan kemungkinan dosa yang ditimbulkan dari usaha memilih salah satu calon pemimpin negara tempat tinggal saya sejak dilahirkan sampai sekarang.

Koq jadi dosa saya? Ya tentunya saya akan berusaha untuk mencari referensi yang benar. Tapi ketika membaca tulisan yang sangat asal-asalan, misalnya judulnya tidak sesuai dengan isinya, seringkali saya langsung mengumpat, menuduh, menghakimi si penulis. Hal yang sama jika ternyata ada teman saya yang menjadikan tautan tulisan/berita tersebut sebagai referensi dari status di media sosialnya.
Semoga Alloh SWT mengampuni saya.

Buat semuanya, mohon maafkan saya jika ada lisan/tulisan atau bahkan tindakan yang menyinggung baik yang disengaja maupun yang tidak.

Marhaban ya Ramadhan

(Visited 73 times, 1 visits today)

Comments 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *