Perkara Parenting

Sepertinya ei sangat jarang nulis tentang parenting ya. Jujur aja, kali ini tergerak menulis tentang parenting karena tulisan Adithya Mulya yang lalu lalang di linimasa media sosial. Perkara parenting ini kalo kata orang-orang bisa susah-susah gampang, tapi bisa gampang-gampang susah *sama aja ga sih? :-P *.

Parenting ei ibaratkan seperti sebuah perjalanan. Dari Jakarta dengan tujuan ke Bandung, perjalanan bisa dilakukan lewat puncak, tol cipularang keluar di gerbang tol pasteur atau lewat subang. 3 rute dari Jakarta ke Bandung ini tidak ada yang salah. Toh semua rute tetap bisa mengarah ke Bandung. Tapi jika tujuannya ditambah lebih detil, misalnya : dari Jakarta menuju bandung dengan waktu tempuh tidak lebih dari 5 jam. Baru alternatif-alternatif tersebut ada yang bisa di eliminasi.

Ditengah lingkungan yang katanya sangat rentan memberikan efek negatif terhadap perkembangan anak-anak, ei sama abang merasa bahwa pola mengasuh 3K yang paling cocok untuk kami semua adalah dengan model “ulur-tarik”. Jika diibaratkan bermain layang-layang, maka 3K adalah layang-layang, benang nilon (kenur) atau gelasan adalah pola asuh dan pemegang kendali benang adalah kami, orang tuanya. Agar layang-layang bisa terbang tinggi, maka benang yang dipegang ada kalanya harus diulur dan ada kalanya harus ditarik.

Begitu pun 3K, diulur supaya ketika mereka menghadapi apapun yang diluar ekpektasinya, yang tak pernah mereka temukan disekitar lingkungan terdekatnya, ngga perlu terkaget-kaget. Ditarik supaya tidak seperti kuda lepas kandang saat berada diluar pengawasan kami, orang tuanya. Toh kami tidak bisa 24 jam berada di samping mereka.

guling2an

Hanya saja parenting model ulur-tarik ini memang diperlukan usaha lebih dari orang tua. Sebagai contoh, tentang gadget. Kami tidak melarang 3K untuk bermain dengan gadget. Dalam hal ini kami ingin mereka justru mengenal pertama kali dari orang tuanya, bukan dari orang lain. Tapi kami batasi dengan hal-hal di bawah ini :

  1. Hanya boleh bermain gadget di dalam rumah, atau ketika diperjalanan dengan pengawasan dari kami.
  2. Tidak menginstal media sosial, hanya media chat saja yang dibolehkan
  3. Harus memberitahukan password gadget mereka supaya kami bisa memeriksa apa saja yang dilakukan mereka dengan gadgetnya pada saat kami tidak berada di dekat mereka.
  4. Selalu menyisihkan waktu untuk memeriksa aktivitas gadget mereka setiap hari, meskipun dalam keadaan capek dan ngantuk sepulang kerja. Karena ei pulang kerja biasanya meracik bahan masakan untuk besok, maka tugas ini adalah bagian abang. Biasanya kami tertawa berdua membaca lucunya celoteh mereka dengan teman-temannya di media chat. Atau berdiskusi berdua jika memang ada yang harus ditindaklanjuti dengan serius
  5. Mencoba mencari tahu dan menginstal aplikasi-aplikasi plus mengkonfigur wifi di rumah untuk mencegah mereka mengakses situs-situs yang dilarang, dsb.

Itu baru dari satu hal, gadget, belum dari hal lain. Capek? Pasti!! Tapi kan setiap pilihan selalu diikuti dengan konsekuensinya ya. Dan lagi model ulur-tarik ini akan mengundang kejutan-kejutan yang menuntut kami sebagai orang tua bersiap secara mental. Contohnya, ei sempat sangat terkejut, ketika membuka history google di gadget mereka dengan keyword : ibu melahirkan. Saya coba googling dengan keyword yang sama daaannn DUARR!! seketika kedua lutut rasanya mendadak lemas.
Berusaha menenangkan diri sendiri, berdiskusi berdua dengan abang apa yang harus dilakukan. Ei tidak menegur mereka secepatnya, tapi mencoba mencari waktu yang tepat sambil terus menenangkan diri sendiri sambil cari-cari pengalaman orang lain menghadapi hal serupa.

Saat sedang ngobrol santai bertiga saja (ei, k#1, k#2) di kamar mereka, baru ei mulai menggali, kenapa mereka ingin tahu tentang ibu melahirkan. Rupanya karena ibu dari salah satu teman mereka sedang hamil besar dan sebentar lagi akan melahirkan. Berdiskusi dengan bahasa mereka, berusaha memancing mereka mengungkapkan pendapatnya tanpa harus takut dihakimi. Mencoba menjelasakan bahwa dari proses ibu melahirkan itu ada gambar-gambar yang mengumbar aurat yang tidak pantas mereka lihat atau akan membuat mereka trauma. Dibumbui dengan penyampaian apa yang boleh dan yang tidak, sesuai dengan ajaran agama kami.

Ketika berdiskusi itu sebenarnya perasaan ei sangat bercampur aduk. Masih ada rasa bersalah, merasa tidak becus jadi orang tua. Masih ada emosi ingin marah terhadap keingintahuan mereka.
Mempertahankan intonasi bicara supaya tetap tenang, bertanya tanpa ada kesan interogasi,  jujur saja bukan hal yang mudah. Pun sesekali k#1 menahan tangisnya, mungkin merasa bersalah. Tapi ei sangat lega karena waktu di akhir diskusi ei kasih pertanyaan : “Mana yang paling menyenangkan, diskusi langsung dengan bunda, atau mencari-cari sendiri di internet?”. Mereka kompak jawab : “Lebih asik sama bunda donk”, dan diskusi itu ditutup dengan berpelukan bertiga sambil ei bilang : “Lain kali kalo ingin tau sesuatu, tanya bunda dulu ya sebelum cari-cari di internet” (cozy) .

Menurut kami, sesuai dengan ciri khasnya bahwa parenting itu tidak ada yang salah dan tidak ada yang paling benar, parenting juga bukan hal yang mutlak. Perubahan-perubahan kondisi lingkungan dimana kita berada (satu hal yang tetap ada di dunia ini adalah perubahan bukan?) membuat penyesuaian-penyesuaian terhadap perjalanan parenting menjadi diperlukan.

Sampai saat ini, kondisi lingkungan kami masih mendukung untuk menerapkan metoda ulur-tarik terhadap 3K. Harapan kami, pada saatnya nanti dilepas di masyarakat, 3K bisa bersikap seperti slogan website ini : “Mengikuti arus tapi tidak terbawa arus”

(Visited 201 times, 1 visits today)

Comments 19

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *