Tentang kepo dan depresi suicidal

Kurang lebih 3 tahun yang lalu, dunia entertainment dikagetkan dengan kabar Robin Williams yang meninggal dunia dengan bunuh diri. Robin Williams gitu lho, artis yang selalu memerankan tokoh-tokoh film yang lucu. Rasa-rasanya koq ngga percaya kalau dia yang selalu terlihat kocak dan ceria akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Awal Maret lalu ada juga berita artis yang meninggal dan diduga bunuh diri, Tommy Page, penyanyi yang ngehits tahun 90-an.

Mereka itu artis dunia yang menurut ukuran kita (kita? ei aja kali) mestinya tidak punya masalah di sisi duniawi. Dari apa yang dapat kita lihat sepertinya kehidupan mereka baik-baik aja. Malah bisa jadi kehidupan mereka cukup bikin iri para penggemar ataupun teman seprofesinya.

Berita meninggalnya pelantun lagu “Shoulder To Cry On”, Tommy Page, lumayan sempat bikin ramai (lagi-lagi) grup whatsapp teman-teman SMP ei dulu. Maklum, lagu-lagu Tommy Page itu banyak yang nge-hits waktu jaman kita SMP .
Beberapa teman yang profesinya psikolog dan dokter pun ikutan memberikan komentarnya yang menurut ei layak untuk dibagikan di sini.

Mengutip dari om Wiki, definisi dari bunuh diri adalah sebagai berikut :
“Bunuh diri (bahasa Inggris: suicide, berasal dari kata Latin suicidium, dari sui caedere, “membunuh diri sendiri”) adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri seringkali dilakukan akibat putus asa, yang penyebabnya seringkali dikaitkan dengan gangguan jiwa misalnya depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, ketergantungan alkohol/alkoholisme, atau penyalahgunaan obat.”

Disebutkan di atas, salah satu gangguan jiwa yang dapat menyebabkan seseorang bunuh diri adalah depresi.
Dari diskusi singkat di grup whatsapp itu, ei jadi tau kalau depresi yang mengarah ke bunuh diri disebut juga depresi suicidal.
Depresi suicidal itu masalahnya kompleks, bukan hanya karena kurang bersyukur, terlalu sedih, putus asa, dll seperti yang suka dituduhkan selama ini. Tapi ternyata ada juga yang disebabkan oleh faktor-faktor biologis dan kimiawi dalam tubuh yang bahkan dirinya sendiri pun tidak tahu kenapa mengalami hal ini.

Jadi depresi suicidal itu bisa menyerang siapa saja dan kapan saja, mulai dari yang ringan sampai dengan yang berat.

Link ini mengatakan bahwa di beberapa kasus, ada juga orang depresi yang memiliki mental yang kuat. Maksudnya adalah dalam kondisi depresi justru mereka ini bisa optimal dalam mencapai prestasi. Untuk yang seperti ini depresi suicidal agak sulit di deteksi.
Ei jadi balik lagi mikir kejadian Robin Williams dan Tommy Page ya.
Koq jadi serem ya?  Terus gimana donk cara mencegahnya?

Biasanya seseorang tidak mau mengakui bahkan pada diri sendiri kalo dirinya sedang bermasalah. Padahal ini sangat penting untuk menghindar dari terjadinya depresi suicidal.
Setelah menyadari bahwa dirinya sedang bermasalah maka tahap berikutnya adalah menyadari kalau dirinya butuh pertolongan.

Gambar pinjam dari sini

Tapi setelah menyadari bahwa dirinya sedang bermasalah pun seringnya sungkan/malu untuk minta pertolongan. Sampai di sini, peran lingkungan untuk pencegahan depresi suicidal menjadi sangat penting.

Ciri-ciri seseorang yang sedang mengalami masalah yang paling mudah terlihat adalah tiba-tiba menarik diri dari lingkungan tanpa ada kabar berita.
Jika ada yang seperti ini dilingkungan sekitar kita sebaiknya sedikit peduli. Pertanyaan ringan dan singkat via text message seperti : “Hey, kamu baik-baik aja kan? Koq ngga pernah kelihatan?” bisa jadi menyelamatkan seseorang untuk tetap hidup.

Terus jadinya kepo donk? Ya sampai derajat tertentu ternyata kepo bisa menyelamatkan hidup seseorang. Tapi kepo untuk empati lho ya, bukan kepo untuk menghakimi.
Mekanisme mental tiap orang dalam menghadapi masalah itu berbeda-beda, tergantung bagaimana waktu kecil dia diperlakukan, termasuk kondisi lingkungannya. Jadi sangat tidak boleh menghakimi seseorang hanya berdasarkan standar kita.
Empati itu memang ngga mudah, karena idealnya dilatih sejak kecil. Untuk paham perasaan dan pikiran seseorang secara objektif tanpa menghakimi atau larut sama kondisi seseorang itu sangat-sangat ngga gampang, tapi bisa dilatih.

So, siap belajar dan latihan empati? 

(Visited 165 times, 1 visits today)

Comments 17

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *