Tentang Ojek

Tentang Ojek

Ojek adalah transportasi yang bisa disewa untuk membawa kita ke tempat tujuan. Umumnya kendaraan roda dua. Karena ojek ini tidak resmi, maka tarifnya pun berdasarkan kesepakatan antara pengendara ojek dan penyewa.
Ojek biasanya memiliki pangkalan. Wilayah-wilayah yang tidak terjangkau transportasi umum resmi seperti angkot, pangkalan ojek biasanya mudah ditemukan.

Ei sudah memanfaatkan jasa ojek sejak pertama kali menetap di Jakarta. Waktu itu sekitar tahun 1997, ei tinggal di rumah saudara di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kendaraan yang banyak dijadikan ojek di sana saat itu adalah sepeda.

OjekSepeda
Ojek Sepeda – gambar dari sini

Untuk kota yang kadar kemacetannya sudah mencapai taraf akut, ojek sangat membantu kita untuk mencapai tempat tujuan dengan waktu lebih cepat dibandingkan transportasi umum roda 4 atau lebih.
Dengan kelebihannya ini, banyak pengendara ojek yang memanfaatkan untuk memasang tarif sesukanya. Dengan alasan jalanan macet maka harga yang ditawarkan seringnya di atas batas wajar.

Berapa sih tarif ojek yang wajar ?
Sependek yang ei pernah tau, harga dasar dari sebuah produk baik barang atau jasa dapat dihitung dari semua komponen biaya untuk memproduksi barang atau jasa tersebut.
Secara kasar (tidak detil apalagi memperhitungkan biaya penurunan nilai kendaraannya), komponen yang membentuk jasa ojek kurang lebih sebagai berikut :

  1. Bahan bakar yang terpakai saat mengantar penyewa dari tempat asal ke tujuan
    Untuk motor yang sudah sangat boros konsumsi bahan bakarnya, 1 liter bensin bisa digunakan untuk menempuh jarak 20 km. Kita asumsikan motor yang digunakan menggunakan bahan bakar pertamax seharga 10,000 rupiah perliter. Maka komponen bahan bakar jika menggunakan pertamax misalnya, per kilometernya menimbulkan biaya 500 rupiah.
  2. Jasa pengendara ojek yang menyetir motornya (termasuk waktu yang digunakan)
    Jasa pengendara Ojek kita hitung berdasarkan kebutuhan beliau membeli makan. Dalam sehari beliau butuh 3 kali makan dengan biaya sekali makan 15,000 rupiah. Sehari penuh biaya makannya 45,000 rupiah. Jika sehari penuh tukang ojek ini bisa mengantar 20 kali penyewa, maka sekali jalan biaya jasanya adalah 2,250 rupiah.
  3. Jika menggunakan ojek dari pangkalan ojek maka dihitung juga biaya sebagai resiko saat perjalanan pulang kembali ke tempat asal tanpa penyewa.
PangkalanOjek
Pangkalan Ojek – gambar dari sini

Dari perhitungan sangat sederhana ini, maka tarif dasar ojek dengan jarak 5 km adalah (5×500) + 2,250 + (5×500) = 7,250 rupiah.
Katakanlah bahwa pengendara ojek ada kebutuhan lain-lain misalnya berjaga-jaga terhadap kejadian tak terduga seperti ban bocor. Maka kita bisa bulatkan menjadi 10,000 rupiah sebagai tarif wajar ojek untuk jarak 5 km.

Nah berdasarkan pengalaman ei, di kota megapolitan Jakarta ini sih untuk jarak 5 km saat ini ngga ada pengendara ojek yang masih mau dibayar 10,000 rupiah.

Belakangan bermunculan layanan ojek online. Dengan menginstal aplikasi berbasis Android di telepon genggam dan mendaftar menjadi pelanggan, penyewa ojek tidak perlu lagi mencari pangkalan untuk mendapatkan layanan ojek. Cukup memesan ojek dari aplikasi tersebut, dimanapun, kapanpun maka ojek yang mengambil pesanan akan menghampiri.

ojekonline
Layanan Ojek Online – gambar dari sini

Selain itu, layanan ojek online juga menawarkan kelebihan-kelebihan ini :

  1. Tarif yang sudah ditetapkan berdasarkan jarak tempuh (per kilometer) sehingga pengguna layanan tidak perlu lagi tawar menawar dengan pengendara ojek.
  2. Kemudahan untuk melacak lokasi pengendara ojek yang mengambil pesanan kita dan berapa lama akan menjemput.
  3. Salah satu layanan ojek online sudah menyediakan asuransi kecelakaan untuk pengguna layanannya.
  4. Pengguna layanan mendapatkan keuntungan yang diakibatkan persaingan antara penyelenggara seperti tarif promo yang lebih murah, layanan yang lebih baik dan bervariasi, dll.

Lalu apakah dengan adanya layanan ojek online mematikan mata pencaharian ojek konvensional?
Menurut ei sih ngga ya. Pengendara ojek konvensional bisa bergabung dengan salah satu penyedia layanan ojek online. Meskipun sudah bergabung dengan penyedia layanan ojek online, pengendara ojek konvensional tetap bisa menawarkan jasanya dengan cara yang konvensional. Pengendara ojek konvensional tidak akan kehilangan pelanggan lamanya yang masih ingin menggunakan jasa ojek secara konvensional. Tentu saja harus diikuti dengan perbaikan layanan, seperti misalnya tidak memberikan tarif di atas batas kewajaran. Karena pada akhirnya pengguna layanan ojek akan membandingkan layanan yang didapat dari penyedia layanan ojek konvensional dan ojek online.

Punya pengalaman berojek-ria? Share di sini yuk ;-)

(Visited 423 times, 1 visits today)

Comments 29

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *