Banyak anak = prestasi ?

temen : anak kamu berapa sekarang ?

ei : 2, perempuan 2-2nya

temen : oh, rencana mau punya anak berapa?

ei : tadinya sih pengen punya 3, supaya kalo diskusi keluarga ga bisa ambil keputusan, voting bisa jadi pilihan, tapi liat nanti deh, kalo ngerasa udah cukup bekalnya, siap mentalnya untuk nambah anak, baru dipikirin lagi :)

temen : lho, koq gitu, setiap anak kan punya rejeki masing2, jangan membatasi jumlah anak karena materi, dosa lho, sama aja dengan ga yakin dengan rejeki Alloh…

ei : oh, gitu ya, makasih masukannya *senyum*

Iya, beberapa kali ei ngalamin obrolan yg kurang lebihnya seperti di atas. Yang pertama kali, ei dengan semangat menjelaskan kenapa ei ga mau punya anak banyak. Tapi terakhir2, mendingan ei akhiri obrolan itu dengan seperti cerita di atas. Kenapa? Males aja, capek kalo mesti debat diskusi dengan semua orang yang punya prinsip seperti temen yang ei cerita-in di atas. Toh setiap orang punya latar belakang kehidupan yang berbeda yang akhirnya melatarbelakangi tentang pandangan terhadap sesuatu.

Mendingan ei share di sini aja kali ya. Yah, siapa tau yang berminat untuk ngajak ei diskusi seperti di atas udah duluan baca blog ini, jadi ga perlu nerusin diskusi lagi kekekek ….

Buat ei, anak adalah titipan aka amanah yang suatu saat nanti, Yang Menitipkan akan meminta pertanggungjawaban kita sebagai orang tua bagaimana kita telah memelihara titipanNya itu.

2k_28072009

Memelihara anak, sebagai titipan Alloh, buat ei ga cukup hanya dengan istilah “jalanin aja”. Semuanya perlu diawali dengan perencanaan. Perencanaan ini merupakan salah satu cara bersyukur sudah dipercaya untuk di titipkan makhluk yang namanya anak. Perencanaan disiapkan dalam rangka memberikan perbekalan yang cukup untuk anak menghadapi semua persoalan hidup di dunia dan akhirat. Sekali lagi, dunia dan akhirat, pake dan bukan atau :P .

Yang tau kemampuan kita, adalah diri kita sendiri kan ya. Nah, dengan punya 2 anak aja, sekarang ini ei ngerasa belum bisa memberikan keadilan bagi mereka. Memberikan keadilan dalam hal materi, insha Alloh mudah, karena semuanya bisa dengan jelas terukur. Ei sih yakin banget kalo setiap anak itu sudah dibekali rejeki masing2 sama Alloh. Tapi kalau misalnya suatu saat nanti ei ga bisa memberikan bekal yang cukup buat anak2, ei ga akan tega untuk bilang : “Yah, maafin ayah bunda nak, tapi rejeki kamu hanya segitu” tanpa bisa menjelaskan usaha2 apa yang telah dilakukan demi mempersiapkan bekal untuk mereka.

Itu yang materi, belum lagi dalam hal non materi. Apa aja sih non materi? Perhatian, curahan kasih sayang, dan segala hal yang dapat menimbulkan kecemburuan bagi anak yang satu terhadap anak yang lainnya.
Kalo ada yang bilang, “aaah, nantinya juga anak2 pasti ngerti koq”. Nanti? kapan? Siapa yang bisa dengan persis mengatakan kapan waktunya anak2 akan mengerti ketidakadilan yang udah kita perbuat?

Ei dan Abang akan sangat bersyukur punya sedikit anak dan berkualitas. Memang sih, tentunya lebih baik banyak anak dan berkualitas, tapi untuk menghasilkan yang berkualitas dari yang sedikit aja udah lumayan effortnya, daripada malah jadi keteteran, kita pilih yang sedikit tapi berkualitas :) (amiiiinnnn). Yah, saat ini baru sanggup 2, kalo ke depannya nanti nyalinya udah cukup, bisa juga nambah jadi 3, itupun kalau masih dipercaya sama Sang Pemilik ;)

(Visited 39 times, 1 visits today)