Humaniora

Salah satu mata kuliah jaman ei masih menyandang status mahasiswa teknik komputer dulu adalah Humaniora.
Humaniora berasal dari kata human yang berarti manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, humaniora adalah pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia lebih manusiawi, dalam arti membuat manusia lebih berbudaya.

Unity in the Community Logo2Konon katanya keinginan manusia untuk menundukkan lingkungan alam secara fisik melalui ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat manusia tersebut kehilangan sisi manusiawi-nya.
Jadi ingat seloroh teman-teman kantor jika ada seorang teknisi yang kesulitan menyampaikan sesuatu : “Elo sih, biasa ngobrol sama mesin doang, giliran sama orang aja bingung gimana ngomongnya” hehehe :-P

Mungkin untuk menghindari hal seperti di atas itulah pelajaran humaniora berasa diperlukan sebagai penyeimbang.

Jaman ei kuliah dulu, pelajaran humaniora cukup minim teori. Seringnya di isi dengan kegiatan-kegiatan bersama seperti “nge-liwet” bareng, yaitu memasak nasi liwet bersama-sama di pekarangan kampus (tentu dengan lauknya donk – red), terus setelahnya makan bareng-bareng, main layangan di lapangan, dll.

Waktu itu ei sempet bertanya-tanya, ini model kuliah apaan sih koq ya kayaknya ga ada pelajarannya.
Tapi setelah nyemplung di masyarakat sebenarnya, perlahan-lahan mulai merasakan gunanya ber-humaniora.

Mata kuliah humaniora yang ei ikuti waktu itu, mengajarkan bagaimana kita berinteraksi dengan sesama manusia. Sepertinya lebih disederhanakan, karena arti humaniora yang sebenarnya lebih luas  lagi. Yah tentunya untuk menyampaikan humaniora yang lengkap tidak akan cukup dengan ‘hanya’ dijatahkan 2 SKS saja ;-)
Kalo jaman sekolah ada pelajaran yang membahas teori budi pekerti, nah pada saat kuliah, humaniora saat itu menjadi pelengkap untuk mengimplementasikannya secara nyata.
Bagaimana melakukan sesuatu bersama-sama tentunya dengan peran masing-masing, tetapi hasilnya untuk dirasakan bersama pula.

Lingkungan masyarakat sebenarnya (lingkungan sekitar rumah, lingkungan kantor, lingkungan komunitas, dll) berisi beragam manusia dengan latar belakang keluarga, sifat, karakter dan kebiasaan yang berbeda-beda. Berinteraksi di dalamnya dengan tanpa intrik tidaklah mudah. Tetapi juga tidak sangat sulit sepanjang kita secara individu memahami aturan main yang umumnya tidak tertulis yang berlaku di lingkungan tersebut.

Tapi ternyata di lingkungan masyarakat sebenarnya itu tidak menjadi jaminan bahwa yang berpendidikan sampai tingkat mahasiswa memiliki attitude (sikap & perilaku) yang baik. Atau paling tidak, bersikap tidak merugikan orang lain.
Masih banyak yang sangat mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentingan bersama. Atau tidak sedikit yang masih mengatasnamakan kepentingan bersama padahal sebenarnya dibalik itu kepentingan pribadinya menjadi tujuan utama.

Apakah karena tidak di semua pendidikan tinggi menerapkan mata kuliah humaniora sebagai bagian dari kurikulumnya? Ataukah karena nilai humaniora tidak berhasil diterapkan?

Jujur aja, ei ngga tau jawabannya hehehe …

Aaah… hidup ini memang keras, Jendral !!

 

*gambar pinjam dari sini*

 

(Visited 174 times, 1 visits today)

Comments 5

  • ck…ck…ck …. takjub sama komen Retma

  • pendidikan spiritual atau agama berperan besar ya mbak

  • Menurut gw, soal di masyarakat itu, pendidikan di keluarga dan agama berperan besar. :D *sok wise ya gw. kqkqkq*
    Tapi gw liat2 emang begitu sih. Contohnya, tetangga gw.

    • hehehe, iya ret, pendidikan agama is the most important. Ei yakin ngga ada agama yang tidak mengajarkan adab bersosialisasi. Bahkan di Islam, agama kita, hablumminalloh dan hablumminannas kedudukannya kan setara :

      dhuribat ‘alayhimuzhillah aynama thuqifu illa biHABLIMMINALLAH waHABLIMMINANNAS

      QS 3:112 – Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia

      ei ga bahas di atas dari sisi agama karena menurut ei agama itu udah hal basic yang mutlak, lagian takut salah nyampeinnya :)
      sayangnya yang ei liat di lingkungan masyarakat kita banyak yang sangat menjaga baik hubungan vertikal dengan Tuhan-nya dan menyampingkan hubungan horizontalnya dengan sesama manusia. Belum lagi banyak banget juga yang menjadikan agama sebagai cover untuk mencapai kepentingan pribadinya :(
      jadi, sepertinya dalam hal ini pendidikan/budaya di keluarga yang mesti dipertanyakan ya?