Kisah inspiratif : Cantir Kerupuk Singkong

Suatu hari di minggu lalu seperti biasa saya berangkat ke kantor dengan Kereta Rel Listrik (KRL) – Commuter Line.
Hari itu saya naik di gerbong khusus wanita dan mendapat tempat duduk. Karena dapat tempat duduk, lalu saya melaksanakan ritual saya yaitu pasang masker dan bersiap untuk tidur . Ya, setiap hari waktu tidur saya sekitar 4-6 jam. Maka kesempatan untuk tidur di KRL dalam perjalanan berangkat/pulang kantor adalah rejeki yang pasti tidak akan saya lewatkan B-) .
Diperjalanan, saya terbangun oleh obrolan sesama penumpang yang berdiri depan saya (dua orang) dan duduk di samping kiri saya.

Awalnya yang berdiri yang ngobrol. Kemudian ibu yang duduk bertanya. Tadinya saya sedikit kesal, karena tidur saya terganggu. Tapi beberapa saat kemudian obrolannya semakin menarik. Dan saya memutuskan untuk mengikuti obrolan mereka meskipun sambil tetap memejamkan mata :-P .

Ibu yang duduk ini dulunya adalah TKI di Malaysia. Beruntung mendapatkan majikan orang Jepang yang sangat baik. Beliau menjadi TKW selama 2 tahun, selesai kontrak, pulang ke tanah air. Uang hasil bekerja di Malaysia semakin menipis.  Beliau memberanikan diri membuat kerupuk dari bahan singkong dengan modal awal hanya 50 ribu rupiah.
Usahanya berkembang pesat dan mendapatkan bantuan modal sampai yg terbesar 50 juta rupiah. Namun ditengah perkembangannya usaha beliau diterpa masalah, sempat merugi sampai 50 juta rupiah juga. Tapi beliau tidak berputus asa dan mulai lagi dari nol. Pemasaran mulai dikembangkan dengan mengenalkan produknya di acara kelurahan2 dan kecamatan2. Kemudian produk dan usahanya mulai dikenal oleh kalangan UKM, instansi pemerintahan dan bahkan lingkungan kementrian.

Usahanya terus berkembang, namun beliau terbentur dengan masalah modal. Namun kemudian Universitas Gunadarma, yang melaksanakan program pengembangan UKM memberikan bantuan dana. Bahkan saat ini beliau sedang bersiap untuk pindah ke Sukabumi. Universitas Gunadarma membantu membuatkan pabrik sekaligus tenaga accounting untuk membantu pencatatan keuangan usaha beliau.
Disela-sela obrolan panjang tersebut, ibu itu menyebutkan nama produknya, kerupuk singkong Cantir.

Ibu tersebut juga bercerita kalo  sekarang beliau fokus untuk berbagi pengalamannya dalam hidup dan berbisnis atas undangan di workshop2 , di seminar2 ataupun kumpulan pengajian ibu-ibu. Beliau bilang : “Pendidikan saya tidak tinggi, saya sadar itu kekurangan saya. Jadi kali ini manajemen pabrik saya serahkan sepenuhnya ke pihak Gunadarma. Saya hanya memantau sesekali saja. Saya lebih suka berbagi pengalaman saya pada orang lain.  Saya sudah terbiasa membagikan pengalaman saya dengan ratusan peserta. Insya Alloh mereka mendengarkan karena saya berbisnis tidak berangkat dari teori, tapi praktek langsung. Mumpung masih ada umur, setelah apa yang saya alami, saya ingin sisa umur saya lebih bermanfaat untuk orang lain.” 

KRL hampir sampai di stasiun Tebet, tempat saya akan turun. Sebelum turun saya sempatkan melihat wajah ibu itu lebih jelas. Di perjalanan dari stasiun ke kantor saya googling, mencari cerita di dunia maya dengan kata kunci cantir kerupuk singkong mantan TKI Malaysia. Dari hasil googling saya tau, rupanya ibu itu bernama Muslimah.

Muslimah-cantir
Ibu Muslimah – Kerupuk Singkong Cantir

Dari tulisan2 yang saya baca tentang ibu Muslimah dengan kerupuk singkong Cantir-nya, tidak ada satupun yang menuliskan bahwa beliau sempat mengidap kanker mulut rahim ditengah kesuksesannya. Juga tidak ada yang bercerita bahwa beliau sempat mengalami KDRT dan berlindung di salah satu rumah singgah di Jakarta. Tapi saya mendengar beliau berkata dengan ringan : “Alhamdulillah sekarang suami saya baik sekali sama saya dan sangat mendukung usaha saya. Kalau saya sibuk diundang jadi nara sumber, suami saya yang menangani semua urusan cantir

Saya selalu mengagumi orang yang berhasil melalui banyak sekali rintangan dalam perjalanan kehidupanya. Cerita seperti ini selalu menambah keyakinan saya bahwa setiap masalah yang menjadi rintangan hidup adalah ujian kenaikan tingkat untuk diri kita. Roda kehidupan tak pernah berhenti berputar. Tidak ada kesulitan ataupun kemudahan yang permanen sehingga tidak perlu pongah ketika dalam kelapangan pun jangan putus asa saat dalam kesempitan. Harapan akan selalu ada seiring prasangka baik kita kepada Sang Pencipta.

Note :
Beberapa referensi tentang cerita ibu Muslimah dan kerupuk singkong Cantir :
http://mirajnews.com/id/artikel/inspirasi-bisnis-cantir-dari-limbah-singkong/
http://indihomewomenawards.com/muslimah
http://www.bnp2tki.go.id/read/6020/Mantan-TKI-Jadi-Juragan-Kerupuk-Singkong

Gambar dari sini

(Visited 759 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *