Me Time

Dari sejak SD, kita sudah di ajarkan bahwa manusia adalah mahluk individu sekaligus mahluk sosial. Manusia sebagai makhluk sosial maksudnya adalah manusia memiliki kemampuan sekaligus kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lainnya.
Manusia melakukan interaksi dengan manusia lainnya sudah dimulai sejak manusia di dalam janin ibunya. Ada teori yang mengatakan bahwa memperdengarkan musik jenis tertentu kepada bayi yang masih di dalam rahim merangsang kualitas otak bayi. Atau himbauan agar ibu hamil tidak mengalami stress akan berefek kepada bayi kesehatan bayi yang dikandungnya. Kedua contoh tersebut membuktikan bahwa interaksi seorang manusia dengan manusia lainnya sudah dimulai bahkan sejak masih di dalam janin ibunya.
Mungkin itu pula yang pada akhirnya artikel tentang manusia sebagai makhluk sosial lebih banyak di bahas pada sebuah diskusi atau ditulis dalam sebuah artikel.

Ya, tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Sekali lagi, tidak ada.
Berinteraksi dengan manusia lain, banyak sekali do and don’t baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang harus diperhatikan. Contoh yang tertulis misalnya adalah aturan bersosialisasi yang ada di kitab suci setiap agama. Contoh yang lain misalnya Anggaran Dasar atau Anggaran Rumah Tangga yang  menjadi landasan sebuah organisasi atau institusi.

Sementara yang tidak tertulis biasanya yang terkait dengan budi pekerti, tata krama. Contohnya adalah tidak boleh membentak orang yang lebih tua dalam menyampaikan apa yang kita anggap benar, apalagi sama mertua hahaha … (rofl)
Atau contoh yang lain misalnya bagaimana cara menyampaikan kepada seseorang yang kerabatnya mengalami kecelakaan.

Cukup ya sedikit contoh di atas, soalnya kalau mau dibahas waaah bisa jadi cerita 1001 malam alias ga selesai-selesai nanti :-D .

Rasanya, setiap detik dalam keseharian kita, selalu berinteraksi dengan orang lain kan ya.  Jadi sebenarnya kapan sih manusia berperan jadi makhluk individu? Sebagai makhluk individu, manusia memiliki sifat dasar, sikap, yang membedakannya dari manusia lainnya, yang menjadi ciri khas dirinya. Nah, waktu manusia mengekspresikan dirinya sebagai makhluk individu, tanpa mengindahkan reaksi orang lain inilah yang ei definisikan sebagai Me Time.
Jadi Me Time buat ei ngga hanya sekedar melarikan diri dari rutinitas.

Seperti yang ditulis sebelumnya di atas, dari bangun tidur di awal hari sampai tidur lagi di akhir hari bisa dipastikan bahwa manusia akan berinteraksi dengan manusia lainnya.  Sehingga apa yang diucapkan dan dilakukan harus mempertimbangkan efek yang ditimbulkan kepada manusia yang lain.
Tapi aspek bahwa manusia sebagai makhluk individu juga tidak boleh dikesampingkan begitu saja. Maka dari itu Me Time harus sengaja disempatkan. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan berekspresi sesuai dengan apa yang ada di dalam diri kita, betul-betul menjadi menjadi diri sendiri, tanpa terbebani dengan kewajiban menjaga efek yang ditimbulkan dari apa yang kita ucapkan/lakukan terhadap orang.

Akhir-akhir ini kebutuhan Me Time lebih banyak dibahas untuk perempuan. Apalagi bagi mereka yang baru merangkap peran menjadi seorang istri dan seorang ibu.
Tanpa maksud membahas masalah gender, mungkin dalam hal merangkap peran dalam kesehariannya, laki-laki dianggap lebih banyak memiliki ruang keleluasaan untuk mendapatkan Me Time -nya dibandingkan perempuan.

WeMoms, salah satu event organizer di Bogor, hari Sabtu tgl 10 Januari 2014 kemarin mengadakan “sharing session” tentang Me Time . Nara sumber yang hadir adalan Mbak Musdalifah Anas atau biasa dikenal dengan Mbak Ipeh dari The Urban Mama (TUM)
Jalannya sharing session lumayan seru. Dan seperti yang ei bilang di atas tadi, pertanyaan Me Time , boleh apa ngga ya? rata-rata hinggap di pikiran perempuan yang baru merangkap peran. Guilty feeling atau rasa bersalah biasanya muncul sebelum atau sesudah melakukan Me Time baik terhadap pasangan, anak, maupun orang tua.

Dari sharing session kemarin, intinya Me Time itu perlu. Hanya saja kebutuhan akan Me Time juga rencana melakukannya, harus di komunikasikan sebaik-baiknya terhadap mereka yang terkena efek pelaksanaan Me Time .

image

Selama ini ei sih ngga pernah bermasalah dengan Me Time . Tanpa komunikasi formal pun, my beloved ones sudah bisa dipastikan mengerti dan mengijinkan. Terbukti dengan tidak pernah kesulitan minta ijin untuk melaksanakan Me Time .

Bentuk pelaksanaan Me Time itu sendiri berbeda-beda untuk setiap orang. Buat ei, kembali ke definisi menurut ei yang udah disampaikan di atas, Me Time tidak melulu kongkow-kongkow, chit-chat dengan pergi rame-rame dengan teman-teman. Pada kondisi tertentu kegiatan seperti ini justru untuk menuntut kita dalam berperan sebagai makhluk sosial yang justru kebalikan dari tujuan Me Time.
Aktivitas di krl dalam perjalanan pergi dan pulang kerja seperti chatting haha hihi di grup yang bisa “nyablak” seenaknya tanpa ada yg protes, menulis draft blog, blogwalking, nonton film serial hasil download atau talkshow favorit yang tidak pernah sempat nonton langsung dari stasiun tv dirumah, atau bahkan sekedar tidur untuk mengganti kekurangan jam tidur malam sebelumnya sudah merupakan Me Time buat ei. Atau bisa juga ei ber- Me Time dengan melakukan aktivitas di dapur tanpa gangguan atau bahkan bantuan orang lain. Apa yang dibikin, bagaimana cara bikinnya, setelah jadi mau dibagi atau dinikmati sendiri atau bahkan dibuang yaaa suka-suka gw hehehe.
Bisa juga Me Time adalah ketika duduk tersungkur di keheningan, mengadukan yang dialami seharian pada Sang Khalik sekaligus bermunajat (yang ini versi pencitraan – red ;-) )

Terus, kalo sudah punya definisi sendiri dan tidak ada masalah dalam melakukan Me Time , ngapain ei ikutan acara ini?
Awalnya ei lagi cek keanggotaan di TUM dan baca info tentang acara ini. Yaaaa jujur aja, udah agak lama ei absen dari acara-acara seperti ini. Kebetulan banget acara ini dilaksanakan hari Sabtu dan di Bogor pula. Jadi rasanya perlu ikut untuk sekedar sharing dan pastinya menambah teman baru.

Selain sharing session tentang Me Time di event ini juga ada sharing tentang Yoga. Dimulai dari pengenalan apa itu Yoga, sekaligus praktek latihan Yoga bersama-sama selama kurang lebih 1 jam.
Adalah Amanda Soedharma, owner dari Natura Yoga, yang menjadi nara sumber sekaligus instruktur di sesi ini. Manda mengenal Yoga sejak SMP dari ayahnya yang praktisi Yoga. Namun baru rutin latihan di bangku kuliah. Selanjutnya merasa tertarik untuk memperdalam Yoga dan berkesempatan mengikuti kelas untuk menjadi instruktur yoga di Yoga Leaf Bandung, yang dipimpin oleh salah satu temen ei waktu SMP, Pujiastuti Sindhu.
Ah seneng banget punya teman-teman yang sudah berhasil berbagi ilmu :-) .

Nah, Me Time versi kamu biasanya ngapain aja?

(Visited 120 times, 1 visits today)

Comments 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *