Move On donk ?

Dari jaman pertama kali boleh ikut pemilu, ei pasti ikut, dan pasti milih. Dari jaman masih memilih partai, ei tetap memilih meskipun ngga pernah jadi simpatisan partai karena memang ga pernah percaya partai. Apalagi setelah milihnya capres langsung, tetep milih capres tanpa liat partai.
Yang gimana yang dipilih? Pasti yang diyakini kira2 kalau terpilih ada harapan membawa perbaikan. Beberapa kali pilihnya hanya berdasarkan feeling karena ga punya informasi sama sekali dan juga belum begitu merasakan hidup bernegara.

Tapi makin ke sini feelingnya ei kasih teman, yaitu apa2 yang sanggup ei lihat (lihat langsung hasil kerjanya atau baca informasi tentang capres). Iya, ei sengaja cari informasi untuk memperkaya alasan memutuskan satu pilihan.
Kenapa koq mau susah2? Ya karena ei sadar, masih pengen tinggal di negara ini, belum sanggup pindah ke negara lain dan juga masih punya harapan agar negara ini kelak akan menjadi lebih baik jika punya pemimpin yang mengayomi rakyat.
Kalaupun ei ngga sempet ngerasain karena kebagiannya di susah2 dahulu, mudah2an nanti anak2/cucu2 ei nanti bisa ngerasain di bagian senang2nya kemudian. Silahkan bilang ei lebay, tapi ya memang itu kenyataannya.

Pernah perhatikan pertandingan bola? Selain ada pelatih, pemain bola, penjaga gawang, hakim garis dan wasit, pertandingan bola juga selalu dilengkapi dengan komentator. Jadi komentator kan enak tuh ya ngomongnya, “euuuh, koq nendangnya gitu, mestinya kan … bla bla bla” atau “euuuh be*o banget sih, mestinya tadi si A tuh begini, bukannya begitu, kan … bla bla bla”.¬† Yang lebih ekstrim lagi : “Wasit gobl*k!! Wasit gobl*k …”,
Padahal si komentator ini adalah supporternya si group bola. Giliran betul2 si komentator dijadikan pemain, turun ke lapangan, bisa jadi si komentator ini jauh lebih jelek mainnya.

Ditengah permainan jelek sang komentator, dia baru merasakan kalo ternyata kerjasama sama orang lain itu ngga gampang, boro2 kerjasama sama orang lain, nguasain diri sendiri aja susah. Harus bisa mengatasi gugup karena demam panggungnya, harus bisa menguasai ambisinya, emosinya, belum lagi mengatasi pengaruh dari orang lain, tekanan dari pelatih, sesama pemain yang mungkin memiliki masalah yang sama, dan juga komentator yg adalah peran dirinya sendiri sebelum ikut main bola di lapangan.
Ya, bagaimanapun komentar yang terlontar dari komentator berasal dari apa yang sanggup dia lihat. Sementara apa yang dia rasakan ketika jadi pemain, tidak pernah terlihat sebelumnya dari semua pertandingan yang sempat ia tonton.

Terus, tulisan ini arahnya ke mana ya, dari pemilu ke pertandingan bola?Tulisan ini dipicu karena ada yang minta ke ei untuk move on. Kalo dari apa yang ei mengerti, ei diminta move on dari membela Jokowi.

Padahal, silahkan tengok2 lagi tulisan ei di blog ini atau status ei di facebook pada masa-masa pilpres kemarin. Ei memang mendukung Jokowi jadi presiden, berdasarkan feeling dan berdasarkan apa yang sanggup ei liat. Effort yang sama juga ei lakukan untuk capres Prabowo saat itu.
Jika ternyata di masa jabatannya Jokowi ei anggap melakukan kesalahan, ei menahan diri ngga mau jadi bertindak seperti si komentator sepakbola di atas.

Jokowi ei ibaratkan pemain bola yang baru saja di daulat menjadi kapten kesebelasan sepak bola. Sebagai kapten, dipundaknya dibebankan harapan dari pemainnya, pelatihnya dan juga pendukungnya untuk memenangkan regunya di sebuah pertandingan.

Studio_20150124_024350

Ei tetep koq sumbang kritik, sumbang saran, sebatas yang ei mampu. Ngga membela mati-matian terus terusan juga. Mungkin kritik/saran ei ngga begitu dirasakan oleh yang minta ei untuk move on karena disampaikan tidak dengan mencaci maki. Saat ini ei belum punya kemampuan untuk merasakan apa yang sebenarnya terjadi ketika menjadi presiden.

Studio_20150124_024502

Rasanya tidak adil jika harus mencaci maki hanya berdasarkan apa yang sanggup ei lihat.Alasan ini juga yang berhasil menahan ei untuk tidak berkonfrontasi dengan yang berbeda pendapat dengan langsung menuliskan komentar untuk menyanggah statusnya di facebook

baby-shoes

Sementara saat ini, kericuhan kembali terjadi antara KPK dan Polri. Ei ga mau berkomentar sama sekali tentang kericuhan ini. Lagi-lagi, komentar yang ei lontarkan adalah berdasarkan apa yang sanggup ei lihat. Dan kali ini apa yang sanggup terlihat oleh mata ei itu ga ada yang bisa ei percaya kebenarannya :-( .

(Visited 103 times, 1 visits today)

Comments 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *