Tentang kenaikan tarif KRL

Ei jadi pengguna jasa Kereta Rel Listrik (KRL) ini udah sejak thn 2002-an. Awalnya pake kereta dari stasiun cikini sampai stasiun pasar minggu atau stasiun tanjung barat,  karena waktu itu kost di Kramat dan kantor di Kebagusan Raya (Jatipadang).
Tahun 2003 pindah ke Cilebut, otomatis jadi pengguna tetap meskipun diselang seling dengan nebeng temen kantor yang tinggal di bogor juga.

Jadi kurang lebih udah 10 tahunan lah ya jadi pengguna jasa KRL. Yang udah pernah di rasain mulai dari KRL Ekonomi (tanpa AC, berhenti di setiap stasiun), KRL Express Pakuan (berAC, berhenti hanya di stasiun2 tertentu), sampai yang terakhir KRL Commuter Line (berAC, berhenti di setiap stasiun).
KRL CL ada dalam rangka menjalankan single operation (ceritanya) jadi, berlaku satu tarif untuk semua jurusan. Bisa bertukar kereta di stasiun tertentu untuk pindah jurusan. Berbarengan dengan itu KRL Express Pakuan dihapuskan.

Waktu Pakuan dihapuskan, tentu saja menuai banyak protes dari pengguna, termasuk salah satunya ei dan abang waktu itu. Waktu itu tarif Pakuan 11 ribu, tapi cukup layak mengingat perjalanan bogor-jakarta sekitar 1 jam 15 menit. Karena ei dan abang ga sampe ke stasiun ujung, paling waktu tempuh di dalam kereta sendiri sekitar 50 menit.
Di ganti menjadi CL, tarif menjadi 5500 memang turun setengahnya, tapi kita sudah perkirakan service yang diterima juga bakalan turun 50%. Dan ini terbukti dengan :

  • AC di beberapa rangkaian kereta tidak berfungsi
    Kebayang ga kita berada di dalam ruang kaleng yang penuh sesak dengan suhu diluar kaleng tsb standar suhu Jakarta, tanpa AC. Ujung2nya jendela2 dibuka, pintu di ganjal supaya terbuka oleh penumpang.
  • Waktu tempuh lebih lama
    Yang tadinya di kereta doang makan waktu 50 menit dengan Pakuan, setelah jadi CL waktu tempuh jadi sekitar 1 jam 15 menit-an.
  • Masalah2 yang sama masih berulang seperti terlambat dari jadwal, kereta mogok, gangguan wessel, dll.

Hari ini, tarif KRL Commuter Line (CL) naik yang ke dua kali. Dulu pertama CL ada, tarifnya 5500, trus naik jadi 7000 trus per hari ini naik jadi 9000. Dan kita sebagai pengguna berbayar ga bisa berharap banyak dari sisi service. Karena pejabat operator-nya bilang kenaikan tarif ini adalah untuk menutup kekurangan biaya operasional.

Berbarengan dengan itu, ada rangkaian KRL baru : Rangkaian Khusus Wanita (RKW) pada jam-jam sibuk. Entah dapat ide dari mana untuk menghadirkan RKW ini. Sebenarnya dengan adanya gerbong khusus wanita di setiap rangkaian kereta CL seperti yang sudah ada selama ini sudah mencukupi. Katanya sih atas dasar kepedulian kepada pengguna KRL yang wanita yang sering berdesakan dalam KRL di jam-jam sibuk.
Padahal berjubelnya pengguna KRL dalam kereta pada jam-jam sibuk dikarenakan kereta sangat sering tidak tepat waktu alias terlambat. Sehingga kebiasaan pengguna KRL adalah memaksakan diri untuk ikut rangkaian yang ada karena rangkaian berikutnya masih belum pasti kapan datangnya.
Terus koq solusinya dengan RKW ya? Ah entahlah … hanya manajemen operator itu dan Alloh yang tau apa tujuannya :-) .

 *gambar pinjem dari beberapa tempat*

(Visited 98 times, 1 visits today)

Comments 1