Tentang rumah (3) – Menggeser lokasi rumah

K#1 dan K#2 sudah mulai rutin sekolah. K#1 tiap hari, K#2 seminggu 3 kali. Mereka akan lebih sering melewati jalan cilebut raya yg lebarnya cukup 2 mobil, bersisian dengan jurang sungai dan lalu lintasnya jarang sepi.
Ei sama Abang mulai kepikiran untuk menggeser lokasi rumah agar jarak ke sekolah anak2 tidak terlalu jauh dan ga perlu tiap hari lewat jalan cilebut raya itu.

Selain itu lokasi rumah yg baru nanti juga mesti mudah dijangkau sama tamu/teman/saudara yang mungkin berkendaraan umum, tidak menggunakan kendaraan pribadi
Dari sebelumnya, udah jadi cita2 kalo ada rejeki geser lokasi rumah, kita berdua pengen yg lokasi rumahnya di hook (pojokan). Kenapa? Ya karena kayaknya sirkulasi udaranya paling ok di posisi hook gitu.
Beberapa lama setelah kita survey, alhamdulillah kita menemukan rumah dan lokasi yg cocok.

Ya, kita dapet rumah dengan posisi di hook, jalan utama sebelum masuk gerbang dilalui angkot. Turun dari angkot berjalan kaki ke rumah pun tidak terlalu jauh. Rumahnya tipe 56/146 . Dengan jumlah anggota keluarga sekarang ditambah asisten, mau ga mau ruangan yang tersedia untuk tipe tersebut kurang. Ei dan Abang memutuskan untuk menyerahkan desain kepada ahlinya :-) . Ya, kita menggunakan jasa arsitek untuk mendesain rumah. Desain rumah nantinya akan menjadi 2 lantai karena kita ga rela semua kelebihan tanah berubah jadi semen.

Setelah beberapa lama hunting via internet, kita menemukan arsitek yang domisilinya di Bogor. Tarifnya di hitung per meter persegi bangunan sebesar 50rb. rupiah. Outputnya mulai dari desain outdoor, indoor sampai Rencana Anggaran Biaya. OK … deal.
Diawali dengan survey lokasi, trus beberapa kali pertemuan akhirnya gambar selesai disepakati dua belah pihak. Tinggal RAB nya .
Ga berapa lama RAB pun selesai dan eng ing eng …. angkanya betul2 bikin kita berdua bengong.

Hmmm, memang sih, biaya renovasi kalau di hitung2 per meter perseginya, sebenarnya ya sesuai dengan harga yg berlaku di pasaran. Lagipula, pondasi rumah asal dari developer kan ga siap tingkat. Jadi renovasi boleh dibilang hampir sama dengan bangun dari awal.
Setelah dipikir-pikir panjang kali lebar kali tinggi, Ei bilang ke Abang : “Coba kita tanya ke pemasaran, apa rumah sebelahnya itu udah dibeli orang? Kalo belum harganya berapa? Kalo ternyata harganya sama aja dengan renovasi, ya mendingan kita beli rumah sebelahnya. Tanah yang didapat jadi lebih luas, ga perlu bikin 2 lantai, jadi ga takut anak2 main2 di tangga secara 2K masih kecil2. Lagi pula rencananya biaya renovasi pun kita akan cari dari kredit bank, mestinya pengajuan KPR rumah baru lebih gampang daripada pengajuan kredit untuk renovasi“. Abang setuju.

Pergilah kita cari informasi ke bagian pemasaran. Dan ndilalah rumah sebelahnya itu masih belum laku. Padahal waktu itu kita udah cicil rumah yang tadinya mau di renovasi itu selama setaun. Langsung kita bayar DP-nya, kalo ditunda2 takut nanti keburu diambil orang. Kebetulan saat itu lagi ada promo DP-nya ringan, 5jt. Langsung hubungi bank yang sama dengan bank pemberi KPR rumah sebelumnya untuk cek apakah plafond KPR masih cukup untuk rumah yang sebelahnya.
Memang betul kata orang, rumah itu jodo2an, rejeki2an. Pengurusan KPR dengan bank pun seperti yang dimudahkan. Alhamdulillah…

(Visited 211 times, 1 visits today)

Comments 6

  • mba ei, ini taman cimanggu belah mana mba? wihhhh keren deh, ud dpt rumahnya… jangan lupa undang2 ya mba xixixi

  • mba , kebetulan lagi cari rumah nih , boleh tahu kah lokasinya di mana ya ?
    dari deskripsinya kok kayaknya posisinya enak , *gak jauh jalan dari turun angkot *

    ei : di bogor kang didin, daerah taman cimanggu

  • bentuknya sama yah ama rumah gw. Kebayang deh setelah jebol tengah, luas banget pastinya itu

    ei : maen yaaa kalo kita dah pindahan

  • kl udah rejeki emang gak kemana ya :)
    ei : iya, alhamdulillah

  • alhamdulillah, turut senang mbacanya, mba. semoga dipermudah semua urusannya. amiin.

    ei : amiiin ya Rabb

  • alhamdulillah,,,

    ei : alhamdulillah… :-)